Tugas-2-Manusia Sebagai Makhluk Allah-MPKAgamaIslam

 

MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK ALLAH

 

2.1 Kemegahan Alam Ciptaan Allah SWT

            Allah SWT menciptakan manusia dengan jumlah yang sangat banyak dan memiliki keunikan. Adanya perbedaan satu sama lain dimaksudkan Allah agar manusia saling mengenal satu sama lain. Allah menciptakan manusia dari (saripati) tanah, Bumi, kemudian menjadikan manusia sebagai pemakmur sumber-asal hidupnya, setelah itu dijadikannya berpasang-pasangan agar dapat berketurunan dan menjadi pemakmur Bumi. Allah telah menyediakan dan menjadikan alam sebagai sarana yang dapat dinikmati manfaatnya untuk berbagai keperluan kehidupan manusia, serta telah terjaminnya ketenteraman hidup melalui keluarga yang penuh dengan kasih sayang.

            Ketaqwaan merupakan satu ukuran yang menjadi pertimbangan kemuliaan manusia menjadi makhluk di sisi Allah sebagai Khalik. Manusia dan keberadaannya di bumi ini tidak pantas menyombongkan diri atas segala ke-MahaKuasaan Allah SWT. Sebagaiman dijelaskan dalam Q.S Al-Baqarah ayat 251, bahwa seandainya saja Allah tidak menolak (keganasan) Sebagian umat manusia dengan sebagia yang lain, pasti rusak sudah bumi ini. Di Q.S Ghaafir ayat 64 dijelaskan juga bahwa Allah yang menjadikan bumi ini sebagai tempat menetap, langit sebagai atap, membaguskan rupa, serta Allah juga memberikan rezeki dengan sebahagian yang baik-baik. Dan pada Q.S Fushilat ayat 09 Allah SWT mempertanyakan kepada manusia bahwa oatutkah manusia kafir terhadap Allah SWT yang telah menciptakan bumi dalam dua masa dan mengapa manusia mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah SWT.

2.2 Konsep Sunnatullah

            Hukum alam menganggap bahwa alam memiliki kekuatan khusus yangtak dapat dikalahkan, ditolak, atau hanya diatasi oleh manusia. Namun dalam sudut pandang Islam hal tersebut kurang mengena, karena dalam konsep Islam kekuatan yang ada adalah kekuatan yang Maha Pencipta, Maha Pendengar, Maha Penguasa Alam, Maha Penentu, ialah Allah Rabbul ‘Alamin. Keteraturan yang terdapat di alam merupakan Sunnatullah, yaitu ketentuan Allah, serta kepastian dari Allah. Sunnatullah tidak pernah berubah, alam telah diatur secara ketat dan teratur oleh Allah SWT dengan secara tertib. Segala perhitungan dan ketetapan sangat jelas dan dapat dipastikan karena segala sesuatu telah Allah tentukan manzilahnya.

وَقَالَ يٰبَنِيَّ لَا تَدْخُلُوْا مِنْۢ بَابٍ وَّاحِدٍ وَّادْخُلُوْا مِنْ اَبْوَابٍ مُّتَفَرِّقَةٍۗ وَمَآ اُغْنِيْ عَنْكُمْ مِّنَ اللّٰهِ مِنْ شَيْءٍۗ اِنِ الْحُكْمُ اِلَّا لِلّٰهِ ۗعَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَعَلَيْهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُتَوَكِّلُوْنَ

Dia (Ya‘qub) berkata, “Wahai anak-anakku, janganlah kamu masuk dari satu pintu gerbang, dan masuklah dari pintu-pintu gerbang yang berbeda-beda. (Namun,) aku tidak dapat mencegah (takdir) Allah dari kamu sedikit pun. (Penetapan) hukum itu hanyalah hak Allah. Kepada-Nyalah aku bertawakal dan hendaklah kepada-Nya (saja) orang-orang yang bertawakal (meningkatkan) tawakal(-nya).” (Q.S Yusuf, 12:67)

2.3 Posisi Manusia Di Antara Makhluk Ciptaan Allah SWT

            Manusia dalam menjalani hidup juga memerlukan keberadaan makhluk lain selain manusia. Manusia sebagai mahkluk, sedangkan Allah sebagai Yang Maha Pencipta. Manusia memiliki perbedaan dengan mankluk lain, yaitu dimana makluk lain harus mengikuti ketentuan (qadr) dari Allah, sedangkan manusia diberi pilihan oleh Allah, antara berada pada jalan yang lurus (shiraatul mustaqii) dan memilih jalan lain (jalan bawaan Iblis, jalan sesat). Semua itu memiliki perhitungan resiko dari Allah SWT.

            Sebagai makhluk yang diberikan kebebasan memilih, maka manusia dapat menetapkan dirinya mengikuti kebebasan fujuur yaitu menjadikan kuffar, atau mengikuti taqwanya yang dapat menjadikannya mu’min. Sunnatullah berupa kefitrahan manusia sebagai makhkluk didapat ketika baru dilahirkan. Keberadaan pengilhaman fujuur dan taqwa sebagai pilihan manusia pada kondisi tersebut dimana kuffar dan mu’minnnya seseorang dikatakan mengikuti garis keturunan dan dipengaruhi orang tuanya. Sehingga Sunnatullah yang lain yang menjadi bukti tentang kemahakuasaan Allah dalam menetapkan segala sesuatu yang terkait dengan kondisi keluarga, keturunan, gen, serta pengaruh lingkungan. Perjanjian Allah tentang persiapan penciptaan manusia, kebebasan yang hanya dianugerahkan kepada manusia telah Allah sampaikan di dalam Al-Qur’an.

2.4 Manusia Sebagai Khalifatan Fil Ardh

            Allah SWT memberika tangung jawab kepada manusia yang tidak diberikan kepada makhluk lain, karena manusia diciptakan sebagai khalifah, sebagai pemakmur bumi. Ketergantungan manusia terhadap makhluk Allah lainnya adalah fitrah dan tidak dapat ditolak.

1.      Tanggung jawab setiap manusia adalah tanggung jawab pribadi

a.       Q.S Al-Baqarah, 02:134 dan diulang pada ayat 141

Menegaskan bahwa manusia tidak akan dimintai pertanggungjawaban terhadap apa yang telah dilakukan oleh manusia lain.

2.      Manusia diberi tugas untuk memelihara hubungan baik dengan sesame manusia

a.       Q.S An-Nisaa, 04: 01

Memerintahkan manusia untuk bertakwa kepada Allah dan memelihara hubungan silaturrahim.

3.      Manusia harus memeihara hubungan baik dengan orang tua

a.       Q.S Al-Hujuraat,49: 10

Menegaskan bahwa Allah SWT melarang untuk menyembah selain Dia, serta memerintahkan untuk brbuat baik kepada orangtuanya.

4.      Manusia memelihara hubungan baik dengan alam

a.   Q.S Al-An’aam, 06:99

Menjelaskan bahwa kekuasaan Allah adalah bagi oramg-oramg yang beriman.

5.      Manusia memelihara hubungan baik dengan manusia lainnya

a.   Q.S Al-Ankabut, 29:46

Menjelaskan larangan untuk berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang yang zalim.

6.      Yang paling penting adalah bermanfaat bagi manusia lainnya.

a. Hadits Nabi Muhammad SAW

Khairunnasi anfa’ahumlinnasi, memberikan rmanfaat bagi manusia lainnya.

Komentar